Tour de Kalsel

Tour de Kalsel

Liburan setelah Penilaian Akhir Semester anak2 Al-Azhar dan Robbani plus cuti bersama adalah kombinasi yang mantap untuk kembali melakukan travelling bersama keluarga. Namun rencana travel selama 4 hari (22-25 Desember 2018) ini nyaris batal, karena pimpinan baru (yang dilantik Jumat 21 Desember pagi) ngajak “rapat” di Hari Sabtu siang. …. wow….

Namun setelah pulang ke rumah ba’da ashar, langsung re-schedule rencana…. Tour de Kalsel yang awalnya direncanakan selama 4 hari, dipadatkan menjadi maksimum 3 hari. Rencana untuk masuk ke dalam “Hearth of South Borneo” (kawasan Pegunungan Meratus) juga di-skip, . Yang penting bisa membawa keluarga lebih mengenal alam Kalimantan dan beragam ciptaan Allah SWT. Supaya travelling kali ini dapat berjalan sesuai dengan rencana berangkat melalui lintas timur Trans Kalimantan (480 KM) dan pulang melalui jalur Hulu Sungai / Banua Anam (370 KM),  saya membagi perjalanan ini menjadi 4 etape (Etape 1 : Banjarbaru – Batulicin (Etape 2 : Batulicin – Tanagrogot; Etape 3 : TanaGrogot – Tanjung; Etape 4 : Tanjung – Banjarbaru).

Etape 1 : Banjarbaru – Batulicin (254 KM)

Kota pertama yang ditemui dalam perjalanan dari Banjarbaru menuju Batulicin adalah kota Pelaihari yang secara relatif berada di selatan Banjarbaru. Pelaihari merupakan ibukota dari  Kabupaten Tanah Laut yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional, khususnya di Kalimantan Selatan. Memasuki Kota Pelaihari kita akan disambut gerbang dan tugu Kijang Mas yang sedang menaiki Haluan Kapal (LoE : 3º42’34,54″ S – 114º44’45,82″ E) di sebelah Tugu Adipura yang berlatar belakang Gunung Kayangan.

Memasuki Kabupaten Tanah Laut, berbagai destinasi wisata alam yang instagrammable… Gunung / bukit dan pantai dapat dengan mudah ditemui di sepanjang jalan menuju Kota Batulicin. Pantai Takisung, Pantai Tanjung Dewa, Pantai Batakan, Pantai Joras, Pantai Muara Kintap, Pantai Swarangan, Pantai Muara Asam-asam (Asmara), Pantai Angsana adalah sederetan pantai yang terletak di bagian selatan Pulau Kalimantan yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Tanah Laut.

Berhubung dalam trip kali ini kami ingin mengejar agar dapat menuntaskan perjalanan “Tour de Kalsel”, kami memutuskan untuk tidak singgah di deretan pantai di sisi selatan Pulau Kalimantan. Bahasan mengenai deretan pantai di sepanjang pesisir selatan Pulau Kalimantan ini dituliskan dalam postingan terpisah…… dan kami ‘cusss’ menuju Sungai Danau / Satui. Tepat di KM 165, kami berhenti sejenak di Masjid Raudhatul Jannah yang lebih dikenal sebagai Masjid Besai Satui  (LoE : 3º46’41,02″ S – 115º24’18,37″ E). Setelah menunaikan sholat, kami melanjutkan perjalanan menuju Batulicin, dengan harapan dapat tiba di Batulicin sebelum tengah malam.

Eta;pe 2 : Batulicin – Tanah Grogot (237 KM)

Setelah menginap selama setengah malam di Batulicin dan sarapan pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju Tanah Grogot. Namun baru beberapa menit melaju mobil yang saya kendarai, kami menemukan kawasan milik Haji Isam, juragan batubara yang sangat terkenal di Kalimantan Selatan. Kawasan yang dimiliki oleh Haji Isam ini kabarnya dipenuhi dengan berbagai fasilitas mewah di areal seluas lebih dari 20 Ha. Kemegahan fasilitas ini terlihat dari gerbang megah yang ukurannya lebih besar dari gerbang pemukiman mewah  (LoE : 3º24’23,53″ S – 116º00’48,10″ E).

Keluar dari Batulicin, pemandangan khas daerah pertambangan batubara dan penggalian batugunung (split) mendominasi kiri kanan jalan. Di beberapa tempat dapat ditemui perkebunan sawit dan karet, serta pemukiman penduduk . Beberapa perlintasan / underpass hauling road juga dapat ditemui di sepanjang jalan.

Memasuki kawasan Kelumpang dan Sungai Durian, mulai terlihat jajaran pegunungan karst di sepanjang jalan (LoE : 3º24’23,53″ S – 116º00’48,10″ E)

 

Pemandangan khas pegunungan karst  ini terus terlihat di sepanjang perjalanan hingga melalui Gendang Timburu (LoE : 3º24’23,53″ S – 116º00’48,10″ E). Di daerah ini kami berhenti di depan salah satu sekolah dasar untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk membuat vlog dari perjalanan mereka.

Memasuki Kawasan Terpadu Mandiri Sengayam, kami melihat banyak sekali durian yang dijajakan di beberapa lokasi di pinggir jalan. Hal ini menggugah selera kami, hingga akhirnya berhenti di dekat salah satu penjual durian. Sempat galau mau “dine in” atau “drive thru” :-), akhirnya kami putuskan untuk membawa durian yang kami beli tersebut, untuk dinikmati di perbatasan Kalsel dan Kaltim yang tinggal beberapa kilometer lagi… Dan tepat di tugu perbatasan Kalsel dengan Kaltim (LoE : 3º24’23,53″ S – 116º00’48,10″ E), kami pun berhenti untuk membuka dan menikmati durian yang telah kami beli tadi. Tugu perbatasan ini terlihat sederhana, namun membuat lega kami, karena dengan sampainya kami di tugu perbatasan ini, artinya tinggal sekitar 60 KM ke depan kami akan sampai di Tanah Grogot (Kabupaten Paser, Propinsi Kalimantan Timur). Hal pertama yang kami tuju saat memasuki kota Tanah Grogot adalah Masjid Nurul Falah. Dari kejauhan keberadaan masjid ini sudah terlihat dengan adanya menara hijau yang menjulang tinggi. Tak lama setelah berkendara ke arah utara, akhirnya kami disambut oleh gerbang masjid yang juga sangat menawan.

Setelah memasuki dan sholat di kawasan masjid yang tertata rapi ini, kami mulai bergerak menyusuri beberapa sudut kota Tanah Grogot. Beberapa taman dapat ditemui di sekitar Masjid Nurul Falah (LoE : 1°54’38.26″S 116°11’57.01″E), ini, seperti Taman Putri Saleha (LoE : 1°54’49.10″S 116°11’50.54″E), dan Taman Simpang Lima (LoE : 1°54’49.11″S 116°11’54.72″E), yang terletak sangat dengan Kandilo Plaza, Taman Siring Kandilo (LoE : 1°54’59.06″S 116°11’58.57″E), dan beberapa lokasi lainnya.

Etape 3 : Tanah Grogot – Tanjung (166 KM)

Setelah puas berkeliling di beberapa sudut kota Tanah Grogot, kami bergerak menuju Kuaro. Sebagaimana Tanah Grogot, Kuaro juga merupakan salah satu kecamatan dalam wilayah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Nilai strategis dar Kuaro ini adalah kota kecamatan ini terletak di persimpangan jalan menuju Banjarmasin (Kalimantan Selatan) dan Balikpapan (Kalimantan Timur). Setibanya di simpang empat Kuaro, kami pun mengambil jalan menuju Banjarmasin.

Setelah berkelak-kelok melalui daerah berpemandangan yang sangat cantik di Puncak Gunung Rambutan (LoE : 1°49’16.90″S 116°00’33.71″E), dan kemudian kami sampai di ‘lembah anai van borneo’ Air Terjun Gunung Rambutan (LoE : 1°48’47.79″S 116°00’04.09″E).

Setelah anak-anak puas ber-selfie dan membuat vlog dengan latar belakang air terjun ini, kami kembali melanjutkan perjalanan. Pemandangan khas pertambangan batubara kembali kami temui di daerah  Batukajang (LoE : 1°49’16.08″S 115°54’45.47″E), dan Batusopang (LoE : 1°49’16.03″S 115°53’36.45″E). Para karyawan dengan atribut safety lengkap terlihat sedang menunggu bis karyawan yang akan mengangkut mereka ke kawasan pertambagan milik PT. Kideco Jaya Agung, sedangkan yang lain terlihat mondar-mandir untuk mencari keperluan harian mereka.

Etape 4 : Tanjung – Banjarbaru (202 KM)

Tugu Obor, WS, Ketupat Kandangan 🙂

…… maaf ya gaes…. tulisan tentang perjalanan ini akan dilanjutkan nanti, harus mengemudi lagi nih ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *