Kuala Kapuas – The Water City

Kuala Kapuas – The Water City

Hari ini kami meluncur ke Kuala Kapuas Propinsi Kalimantan Tengah. Berjarak kurang lebih 50 km dari Banjarmasin melalui jalan Trans Kalimantan yang sangat mulus membuat perjalanan kali ini seakan tanpa hambatan.  Baru beberapa saat keluar dari Kota Banjarmasin, kami melintasi Jembatan Barito (LoE : 3º12’54,65″ S – 114º33’28,84″ Eyang pernah dinobatkan sebagai jembatan terpanjang di Indonesia. Dari atas jembatan terlihat iring-iringan tongkang batubara yang ditarik beberapa tugboat. Sesampainya di ujung Jembatan Barito, setelah melewati Kawasan Anjir, kami tiba di perbatasan Kalsel (Kabupaten Barito Kuala) – Kaleng (Kabupaten Kuala Kapuas). Setelah melewati Jembatan Sungai Petak (LoE : 2º59’21,46″ S – 114º25’23,52″ E), tak lama kemudian kami memasuki kawasan Kuala Kapuas. Kota ini cukup unik, karena walaupun letaknya cukup jauh dari Palangkaraya (Ibukota Propinsi Kalimantan Tengah), namun posisi Kualakapuas sangat strategis, karena merupakan kota pertama di Propinsi Kalteng yang dilintasi dalam perjalanan dari Banjarmasin menuju Palangkaraya. Sampai saat ini, dapat dikatakan bahwa beberapa kebutuhan hidup di Kalimantan Tengah (khususnya Palangkaraya) masih sangat bergantung pada Banjarmasin.

Memasuki Kota Kuala Kapuas pengunjung kota ini akan disambut oleh Bundaran Besar Kapuas (LoE : 2º58’43,26″ S – 114º24’13,11″ E), yang terletak di jalan poros Trans Kalimantan yang menghubungkan Kota Banjarmasin dengan Kota Palangkaraya.

Dari bundaran ini, kami berbelok menuju pusat kota Kapuas, Awalnya, hal yang terlintas di pikiran adalah kota yang sedang berkembang dan material konstruksi berserak di mana-mana. Namun  hal ini salah besar, yang tampak justru jalan lebar yang beraspal mulus, lengang dan sangat bersih. Memang kota ini sedang berkembang, sama sekali tidak ada sampah yang bertebaran di jalan raya, di beberapa tempat masih terlihat petugas kebersihan yang bekerja, walaupun ketika kami sampai di Kota ini sudah lewat tengah hari. Tidak ada kesemrawutan lalu lintas, kemacetan juga tidak kami jumpai. Sangat menyenangkan berkendara di kota ini.

Hal pertama yang kami lakukan di kota ini adalah mencari lokasi makan siang, dan pilihan kami jatuh ke salah satu rumah makan yang tidak terlalu besar di dekat pasar /kota lama  (LoE : 3º01’17,87″ S – 114º23’32,95″ E).  Rumah makan ini kami pilih karena dari jauh sudah terlihat asap bakaran ikan yang menggoda dan hampir pasti dapat memuaskan selera makan kami yang saat itu sedang lapar-lapar nya. Setelah menyelesaikan makan siang, kami menuju ke arah Taman KPS. Dan pada saat kami menuju ke sana, terlihat air mancur bertuliskan Kapuas Kota Air di ujung median jalan Kartini (LoE : 3º01’25,24″ S – 114º23’28,54″ E). Jalan ini terletak di samping rumah jabatan Bupati Kuala Kapuas .

Dari situ, kami bergerak ke Taman KPS (LoE : 3º01’29,70″ S – 114º23’26,35″ E) yang terletak di sebelah Guest House Kota A (LoE : 3º01’27,07″ S – 114º23’30,11″ E). Dari Taman KPS dan Guest House ini, kita dapat melihat perahu yang lalu lalang di Sungai Kapuas. Nama sungai ini sama persis dengan sungai yang melintasi Kota Pontianak, namun harus dipahami bahwa sungai di kedua kota tersebut tidak berhubungan, hanya memiliki nama yang sama. 

Setelah puas melihat-lihat di pinggir sungai Kapuas, kami bergerak menuju kawasan Kantor Bupati Kapuas (LoE : 2º57’54,26″ S – 114º24’58,29″ E) untuk menunaikan sholat ashar di samping kantor bupati tersebut (LoE : 2º57’52,01″ S – 114º24’58,64″ E).

Setelah itu puas berputar-putar di kota ini, kami langsung cuss untuk mencari durian yang pada saat kami mengunjungi kota ini sedang musim-musimnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *